Performance / TERAP #3
Halaman Belakang Kota
Chendy Ariswan Latief

Tentang karya
Di balik etalase pariwisata Bandung yang menjual estetika romansa kota, ada realitas warga kelas pekerja yang kian terpinggirkan. Fasad kota terus dipoles demi turis, namun ruang hidup warga justru menyempit. Mereka dipaksa menerima ruang hidup yang menyempit akibat residu gentrifikasi: menghirup polusi, menerima keruhnya air sungai, sementara suara mereka ditenggelamkan oleh deru pembangunan. Melalui intervensi ketubuhan di pusat keramaian, pertunjukan ini menginterupsi laju kota, waktu publik dan memori komunal; memperlihatkan bahwa pembangunan kota sering kali hanyalah kerja pembersihan sia-sia di halaman belakangnya sendiri.
Tentang seniman
Chendy Ariswan Latief; seniman pertunjukan asal Baubau, Sulawesi Tenggara. Lulusan magister dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memfokuskan kekaryaannya pada dramaturgi spesifik-situs ( site-specific ), memori warga, dan teater ruang publik. Melalui kolektif Teater Sora yang diinisiasinya, ia merancang pertunjukan yang merespons ruang keseharian warga. Karya dan perhelatan yang ia sutradarai di antaranya adalah pertunjukan monolog di situs Benteng Sorawolio pada Festival Sara yi Sora (2024), Festival Banti to Akoro (2025) yang merespons sembilan situs publik berbeda di kota Bau-bau, serta Festival Kande yi Sora (2026) yang bersama warga palatiga membawa wacana dekolonisasi ruang. Praktik kekaryaan ini berjalan beriringan dengan keterlibatannya sebagai peneliti di Latalombo Urban Lab yang mengkaji narasi warga. Proses persilangan antara teater dan riset ruang ini turut memperkaya tulisan kolaboratifnya dalam antologi Sepiring Cerita dari Sudut Baubau , serta presentasi akademisnya di konferensi KAMC IAFOR Jepang (2024). Melalui praktik-praktik tersebut, Chendy memosisikan teater sebagai ruang perjumpaan antara kesenian, lanskap sejarah, dan realitas masyarakat.
