Lewati ke konten
Terap FestivalBANDUNG, 24–27.09.26
← Semua program

Performance / TERAP #3

Halaman Belakang Kota

Chendy Ariswan Latief

Poster Halaman Belakang Kota

Tentang karya

"Halaman Belakang Kota" karya Chendy Ariswan Latief adalah sebuah intervensi spasial dan teater partisipatoris berupa tur berjalan kaki dari Tugu KM 0 Bandung, melintasi Taman Braga dan Gang Affandi, hingga berakhir di Braga City Walk. Merespons dromologi (kecepatan), karya ini menggugat sejarah tata ruang kota melalui pertemuan tiga material historis: Sepatu Cibaduyut, Asbuton, dan Air Sumur Warga.

Pertunjukan ini bertolak dari memori personal mama seniman sebagai buruh garmen yang waktu luangnya terampas demi kulakan sepatu ke Cibaduyut. Penonton diposisikan sebagai "teman jalan" yang lajunya diinterupsi secara fisik. Melalui percakapan telepon lintas waktu, dan penonton diminta melepaskan alas kaki lalu berjalan telanjang kaki melintasi aspal. Seniman akan memikul sepatu-sepatu penonton tersebut menuju "halaman belakang" kota di Gang Affandi.

Berkolaborasi dengan Pak Iyep (warga lokal) dan Piede (pengrajin sepatu generasi ketiga Cibaduyut), pertunjukan merajut ritual cuci kaki di Sumur Babuh Ipo yang airnya kian mengering akibat gentrifikasi, serta memamerkan proses pengerjaan sepatu (handmade). Karya ini menukar waktu turisme dengan pengalaman merasakan ruang hidup pinggiran yang terampas.

Tentang seniman

Chendy Ariswan Latief; seniman pertunjukan asal Baubau, Sulawesi Tenggara. Lulusan magister dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memfokuskan kekaryaannya pada dramaturgi spesifik-situs ( site-specific ), memori warga, dan teater ruang publik. Melalui kolektif Teater Sora yang diinisiasinya, ia merancang pertunjukan yang merespons ruang keseharian warga. Karya dan perhelatan yang ia sutradarai di antaranya adalah pertunjukan monolog di situs Benteng Sorawolio pada Festival Sara yi Sora (2024), Festival Banti to Akoro (2025) yang merespons sembilan situs publik berbeda di kota Bau-bau, serta Festival Kande yi Sora (2026) yang bersama warga palatiga membawa wacana dekolonisasi ruang. Praktik kekaryaan ini berjalan beriringan dengan keterlibatannya sebagai peneliti di Latalombo Urban Lab yang mengkaji narasi warga. Proses persilangan antara teater dan riset ruang ini turut memperkaya tulisan kolaboratifnya dalam antologi Sepiring Cerita dari Sudut Baubau , serta presentasi akademisnya di konferensi KAMC IAFOR Jepang (2024). Melalui praktik-praktik tersebut, Chendy memosisikan teater sebagai ruang perjumpaan antara kesenian, lanskap sejarah, dan realitas masyarakat.

Halaman Belakang Kota · Terap Festival #3