Lewati ke konten
Terap FestivalBANDUNG, 24–27.09.26
← Semua program

Diskusi / TERAP #3

Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota

Poster Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota

Tentang karya

Ruang publik bukan sekadar tempat orang lewat, bertemu, atau berkumpul. Di dalamnya bekerja berbagai kepentingan yang menentukan bagaimana kota dibentuk, siapa yang dapat menggunakan ruang, dan siapa yang perlahan tersisih. Di tengah perubahan kota yang terus berlangsung, seni dapat menjadi salah satu siasat warga untuk membaca ruang secara kritis, menyatakan keberadaan, membuka percakapan, dan menciptakan kemungkinan lain dalam menghuni kota.

Diskusi “Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota” mengajak kita melihat siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana ruang kota digunakan dan diubah? Bagaimana warga dapat membaca perubahan tersebut dan mengambil peran di dalamnya? Dapatkah seni menjadi cara untuk menginterupsi keteraturan kota dan membuka kemungkinan tindakan warga? Bagaimana pengalaman individual dapat terhubung menjadi kesadaran kolektif? Apakah untuk bergerak bersama kita harus selalu berada di tempat dan waktu yang sama? Bisakah orang bergerak pada waktu, tempat, dan dengan cara yang berbeda, tetapi tetap menjadi bagian dari kerja kolektif? Jika waktu bersama bukan sekadar waktu berkumpul, bagaimana ia dapat dibangun, dibagi, dan digunakan secara kritis? Dan pada akhirnya, bagaimana seni dapat menjadi siasat untuk membangun ruang dan waktu yang memungkinkan warga bukan hanya tinggal di kota, tetapi benar-benar menghuninya?

Tentang seniman

Pembicara: - Zen RS - Rebecca Kezia

Moderator: Dian Ardiansyah

Zen Rachmat Sugito atau lebih dikenal sebagai Zen RS (lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 18 April 1981) adalah penulis, pandit, dan jurnalis Indonesia.[1] Dia terutama dikenal sebagai pendiri PanditFootball, sebuah situs web yang berisi ulasan tentang sepak bola, terutama sepak bola Indonesia dan sepak bola Eropa.

Rebecca Kezia menamatkan Pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Ia terlibat dalam beberapa kerja kuratorial, produksi dan penulisan teater, terutama mengenai perkembangan naskah drama dan teater di Indonesia. Selain berkecimpung dalam teater, ia juga terlibat dalam program-program lintas disiplin seperti tari, sastra dan pemikiran. Hal inilah yang membuatnya tertarik untuk mengemban peran perantara atau intermediary kerja kesenian dengan publik tanpa terikat pada persoalan kategori atau genre yang diwujudkannya dalam inisiatif aRRRah bersama. Ia pernah bekerja di Komunitas Salihara (2015-2023) sebagai manajer program bidang edukasi dan wacana serta menjabat anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta periode 2020-2023. Kerja kuratorialnya meliputi ko-kurator pertunjukan Indonesia Bertutur 2024, Indonesian Dance Festival 2022, dan Indonesia Dramatic Reading Festival 2018. Bersama dengan Rama Thaharani, Amna Kusumo dan Josh Marcy, turut menginisiasi Jejaring Produser Pertunjukan Indonesia berbasis forum. Saat ini menjadi kurator untuk Djakarta International Theater Platform (DITP) dan Jakarta International Dance Festival (JICON).

Dian Ardiansyah adalah seorang Aktor, Sutradara, Penulis Naskah, Penerjemah, dan Penyanyi yang saat ini berdomisili di Kota Cimahi. Pengalaman berada di panggung teater selama 20 tahun merupakan perjalanan yang tidak sebentar dalam berkesenian. Dari 20 tahun perjalanan tersebut telah mengantarkannya pada beragam kerja kesenian, mulai dari panggung konvensional hingga ruang publik. Mulai dari aktor teater hingga kaum difabel telah menjadi partner kerja dalam berkesenian.

Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota · Terap Festival #3